Rabu, 17 Maret 2021

ORANG YANG CERDAS MENURUT ROSULALLOH SAW



﷽


الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ تَزَوَّدَ بِهَا لِيوْم الحِسَاب اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ رَبُّ النَّاسِ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ الأَشْخَاصِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا ، أَمَّا بَعْدُ ،

Seorang ulama besar al-Imam al-Hafiz al-Syeikh Syihabuddin Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad al-‘Asqalani al-Syafi-‘I atau yang terkenal dengan (Ibnu Hajar al-'Asqalani) (lahir 773 H/1372 M wafat 852 H/1449 M) dalam muqoddimah kitabnya Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yaumil Ma’ad yang kemudian diberikan Syarah oleh al-Sheikh al-‘Allamah Abu Abd al-Mu’thi  Muhammad Nawawi  bin ‘Umar al-Banteni al-Jawi wafat (25 Syawal 1314 H/1897 M) dengan judul kitab Nasho-ihul-‘Ibad  fi Bayan Alfaz Munabbihat  ‘Ala  al-Isti’dad li Yaumil-Ma’ad.

Mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah ra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ قَالَ ‏:‏ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ثُمَّ قَالَ

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshar mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya,.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Wahai Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya.” Orang itu bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling banyak baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadist yang lain Rosulalloh SAW memperjelas tentang الكَيِّسُ

عن أبي يعلى شداد بن أوس - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ. [رواه الترمذي]

Artinya :

Dari Abu Ya'la yaitu Syaddad bin Aus r.a. dari Nabi SAW., sabdanya: "Orang yang cerdas - berakal - ialah orang yang memperhitungkan keadaan dirinya dan suka beramal untuk mencari bekal sesudah matinya, sedangkan orang yang lemah ialah orang yang dirinya selalu mengikuti hawa nafsunya dan mengharap-harapkan kemurahan dari Allah tanpa beramal shaleh." (HR. At-Tirmidzi)

Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengevaluasi dan mencela diri atas kekurangan kita dalam melakukan ketaatan dan amal shalih. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

 Maksud ayat ini menurut Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah yang bernama lengkap (Abu al-Fida’ `Imad al-Din Isma`il bin Umar bin Katsir bin Dhau’ bin Katsir Zara’ Al-Qurasy Al-Syaf`i) wafat pada hari Kamis 26 Sya’ban 774 H/ 1374 M. adalah

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”

Oleh karenanya, mengingat persinggahan di dunia ini begitu singkat sudah barang tentu manusia harus pandai memanfaatkan waktunya. Jangan sampai ia menunda-nunda amal shalih yang sebenarnya bisa ia kerjakan dengan segera.

Rosulalloh SAW bersabda :

عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda: Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara“, Ibnu Umar berkata: Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu“ (HR Bukhari).

Oleh karena kita tidak mengerti kapan dan dimana kita akan kembali menghadap kepada Allah Ta’ala, maka kita manfaatkan betul kehidupan dunia yang singkat ini untuk memperbanyak perbekalan menuju perjalanan yang masih sangat jauh itu.

Mu’min yang cerdas akan meniatkan segala aktifitasnya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan tidak membiarkan satu kegiatan pun menjadi sia-sia tanpa nilai dihadapan-Nya. Bahkan seorang Mu’min yang cerdas selalu berupaya agar bisnis dan pekerjaan dunia yang ia jalani tidak melalaikannya dari mengingat Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ ,رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nuur: 36-37)

Semoga kita semua dijadikan seorang hamba yang mendapatk Rohmat dan petunjuk serta diberikan kekuatan untuk dapat memanfaatkan setiap kesempatan menjadi amal sholih sebagai persiapan kita menuju tempat kembali. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

 

Wallohul muawfiq ilaa aqwamit thoriq

Wasalamu’alaikum Warohmatulli wabarokatuh

 

Jaka Suganda

Majelis Atsaqofiy

 

Di tukil dari berbagai sumber

 




Rabu, 03 Februari 2021

Asbabun Nuzul Surah Al-Mu’awwidzataini

 Asbabun Nuzul  Surah Al-Mu’awwidzataini

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Para ahli tafsir berkata, seorang anak Yahudi menjadi pelayan Nabi s.a.w. Orang-orang Yahudi senantiasa mendekatinya, sampai pada suatu ketika si Yahudi mengambil sisir yang dipakai menyisir rambut Nabi s.a.w. dari pelayan itu. Kemudian orang Yahudi menyihir Nabi s.a.w. dengan rambut beliau yang terdapat di sisir itu. Orang yang diserahi untuk melakukannya adalah Lubaid bin al-A‘sham al-Yahudi.

Setelah dibentuk sedemikian rupa lalu dimasukkan dan ditanam di dalam sumur Bani Zuraiq, yang dikenal dengan nama Dzarwan. Rasulullah s.a.w. jatuh sakit dan rambut kepalanya banyak yang rontok, bahkan sempat beliau terlihat mendatangi istri-istrinya, namun beliau tidak mendatanginya.

Kemudian, pada suatu hari, ketika Nabi s.a.w. sedang tidur, tiba-tiba beliau didatangi dua malaikat, yang satu duduk di sisi kepala, sedang malaikat satunya (yang kedua) duduk di sisi kaki beliau.

Malaikat yang ada di sisi kepala beliau berkata: “Bagaimana keadaan laki-laki ini?” Malaikat yang satunya menjawab: “Thubba”. Malaikat yang di sisi kepala bertanya: “Apa itu thubba?” Ia menjawab: “Sihir.” Ia bertanya lagi: “Siapa yang menyihir?” Ia menjawab: “Lubaid bin al-A‘sham al-Yahudi.” Ia bertanya lagi: “Dengan apa beliau disihir?” Ia menjawab: “Dengan sisir dan rambut beliau yang ada di sisir itu.” Ia bertanya lagi: “Di mana barang itu berada?” Dijawab: “Di dalam pelepah kurma (ada yang mengatakan di dalam lilin yang dibentuk menyerupai wajah beliau) yang dimasukkan ke dasar sumur Dzarwan yang ditindih batu besar.”

Lalu Rasulullah s.a.w. terjaga dan bersabda: “Wahai ‘Ā’isyah, tahukah kamu, bahwa Allah telah memberitahukan kepadaku mengenai penyakitku?” Selanjutnya beliau mengutus ‘Alī, Zubair, dan ‘Ammār bin Yāsir.” Mereka datang ke sumur yang dimaksud dan melihat sedikit airnya seakan tinta berwarna biru tua.

Selanjutnya mereka mengeluarkan pelepah yang dibuat menyihir beliau itu dan ternyata di dalamnya memang terdapat sisir beliau dan ternyata di situ terdapat sebelas buhul, masing-masing buhul ditusuk dengan jarum. Lalu Allah menurunkan surah al-Mu‘awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Nās). Setiap beliau membawa satu ayat, terlepas satu buhul, dan beliau merasakan ada yang terlepas dan semakin ringan sampai buhul yang terakhir, beliau pun bangkit terasa terbebas dari buhul-buhul tersebut.

Kemudian Malaikat Jibril datang dan mengobati (memantrai) beliau dengan membaca doa: “Bismillāhi urqīka min kulli syai’in yu’dzīka, wa min ḥāsidin wa ‘ainin, Allāhu yasyfīka.” (Dengan menyebut asma Allah aku memantraimu, dari segala sesuatu yang menyakitkanmu, dari kedengkian orang yang dengki dan dari ‘ain, Allah menyembuhkanmu).

Mereka orang-orang Yahudi dan musyrik merasa heran melihat beliau segar bugar. Beliau bersabda: “Allah telah menyembuhkan aku dan aku tidak suka hal itu akan berpengaruh buruk pada manusia (akan ditiru orang).” Demikianlah ketabahan dan keluhuran budi beliau s.a.w.:

Sebagaiman dalam Hadits Riwayat Imam Al Bukhori dijelaskan :

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ مُوْسَى أَخْبَرَنَا عِيْسَى عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ (ص) وَ قَالَ اللَّيْثُ كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ أَنَّهُ سَمِعَهُ وَ وَعَاهُ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سُحِرَ النَّبِيُّ (ص) حَتَّى كَانَ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ وَ مَا يَفْعَلُهُ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ دَعَا وَ دَعَا ثُمَّ قَالَ: أَشْعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِيْ فِيْمَا فِيْهِ شِفَائِيْ أَتَانِيْ رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِيْ وَ الْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيَّ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْآخَرِ مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوْبٌ، قَالَ: وَ مَنْ طَبَّهُ؟ قَالَ: لَبِيْدُ بْنُ الْأَعْصَمِ، قَالَ: فِيْمَاذَا؟ قَالَ: فِيْ مُشُطٍ وَ مُشَاقَةٍ وَ جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ، قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِيْ بِئْرِ ذَرْوَانَ. فَخَرَجَ إِلَيْهَا النَّبِيُّ (ص) ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ لِعَائِشَةَ حِيْنَ رَجَعَ نَخْلُهَا كَأَنَّهُ رُءُوْسُ الشَّيَاطِيْنَ. فَقُلْتُ: اسْتَخْرَجْتَهُ؟ فَقَالَ: لَا أَمَّا أَنَا فَقَدْ شَفَانِي اللهُ وَ خَشِيْتُ أَنْ يُثِيْرَ ذلِكَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا ثُمَّ دُفِنَتِ الْبِئْرُ. (رواه البخاري)

Artinya:

“Ibrāhīm bin Mūsā memberitahu kami, ‘Īsā memberitahu kami, dari Hisyām dari ayahnya, dari ‘Ā’isyah, ia pernah berkata: Nabi s.a.w. pernah disihir, sampai beliau dikhayalkan bahwa beliau akan berbuat sesuatu, namun beliau tidak melakukannya. Sampai pada suatu hari beliau berdoa dan berdoa. Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberiku petunjuk, mengenai sesuatu yang di dalamnya mengandung kesembuhanku. Aku didatangi dua malaikat, yang satu duduk di sisi kepalaku dan yang satunya di sisi kedua kakiku. Salah satunya berkata: “Apa sakit orang ini?” Satunya menjawab: “Disihir?” Ia bertanya: “Siapa yang menyihir?” Ia menjawab: “Labīd bin al-A‘sham.” Dia bertanya: “Dengan apa?” “Dengan sisir dan rambut beliau yang terdapat pada gigi sisir itu dan dimasukkan dalam pelepah kurma jantan.” Ia bertanya: “Di mana ia diletakkan?” “Di dalam sumur Dzarwān.” Kemudian beliau keluar pergi ke sumur itu, lalu kembali pulang dan bersabda pada ‘Ā’isyah: “Pelepah kurma (yang dipakai menyihir beliau), seperti kepala setan.” Aku bertanya: “Engkau mengeluarkannya dari dalam sumur itu?” Beliau menjawab: “Tidak, Aku telah disembuhkan oleh Allah. Aku khawatir hal itu akan menimbulkan pengaruh pada manusia. Kemudian sumur itu ditanam.” (H.R. Bukhārī).

Demikian, segala puji bagi Allah Yang Esa lagi Maha Pemberi Anugerah, wa shallallāhu ‘ala Sayyidinā Muḥammadin wa ālihi wat-tābi‘īna lahum bi iḥsān.

Selasa, 11 Februari 2020

GHIBAH TANGAN DI MEDSOS


﷽
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ . فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral hadirin, jama’ah Jum’at Rohimakumulloh,

Mari kita panjatkan segala puja dan puji serta syukur kita kepada Allah yang maha ghofur atas limpahan rohmat karunia dan ni’mat nya kepada kita semua, ni’mat iman dan islam, ni’mat sehat dan kesempatan sehingga Alhamdulillah, saat ini kita bisa hadir di masjid yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah sholat Jum’at.

Sholawat dan salam semoga disampaikan selalu kepada Nabi agung pemimpin sekalian para nabi dan rosul dialah Habibanaa wa nabiyyanaa Muhammad Shollallohu alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, para tabi’in, pengikut tabi’iin mudah mudahan termasuk kita didalamnya, dicatat sebagai umat baginda Nabi Muhammad SAW. Aamin yaa robbal Aalamiin.

Selanjutnya alfaqir menghimbau khusus nya untuk diri sendiri, marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kita kepada Allah Ta’ala, taqwa dengan sebenar-benarnya taqwa yaitu dengan berusaha terus menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan jalan taqwa inilah kita akan mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan di dalam dunia hingga akhirat kelak. . Aamin yaa robbal Aalamiin.

hadirin, jama’ah Ju’mat yang di rohmati Allah..

Di sadari atau tidak saat ini kita tengah berada diera informasi digital yang tanpa sekat ruang dan waktu. Satu masa dimana manusia dapat mendapatkan sebuah informasi dari suatu kejadian di belahan bumi yang jauh sekalipun, tanpa harus menunggu lama. Hal ini dapat terjadi dengan mudah setelah berkembangnya teknologi informasi dan media sosial (medsos) di tangan mayoritas masyarakat dunia. Kita memang patut bersyukur karena dengan teknologi informasi dan media sosial ini, mencari informasi keilmuan terbuka luas, komunikasi bisnis sangat terbantu, menjadi media silaturrahmi, bahkan ada yang menjadi kaya dengan memanfaatkan hadirnya teknologi informasi dan media sosial ini.

Di sisi lain lewat medsos pula, orang bisa menjadi mudah melanggar norma-norma agama maupun tatanan sosial masyarakat. Melalui medsos sekarang bisa curhat, bisa juga menggunjing orang, memfitnah dan menebar ujaran kebencian dan berita bohong, semuanya bisa dilakukakan hanya dengan apa yang ada dalam genggaman tangan, melalui tulisan, gambar, atau video yang bisa diproduksi dalam hitungan menit. Dalam waktu sebentar saja konten itu lalu menyebar ke mana-mana. Jutaan orang bisa mengakses dan hebatnya lagi, gunjingan di media sosial tidak akan pernah hilang sebelum dihapus.  

Menceritakan keburukan orang lain, dalam agama Islam dikenal dengan istilah ghîbah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra diceritakan, suatu ketika Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat :
  أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟  
“Apakah kalian tahu apa itu ghibah?”  

Para sahabat menjawab :
  اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ  
 “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”  

Kemudian Nabi menjawab :  
 ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ    
”Ghibah adalah ketika kamu mengisahkan teman kamu tentang suatu yang tidak ia sukai”

Lalu ada yang tanya kepada Nabi:  
أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟  
 “Bagaimana kalau yang saya katakan itu memang sesuai faktanya, Ya Rasul?”  

 إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّ  
“Ya kalau memang yang kamu katakan itu fatka, berarti kamu menggujingnya. Namun jika yang kamu bicarakan tidak sesuai fakta, maka kamu membuat kedustaan terhadap dirinya” (HR Muslim).
 
Jama’ah Jum’at Rohimakumulloh,

Dalam pergaulan kekeluargaan dan masyarakat, besar kemungkinan kita akan menemukan kekurangan-kekurangan orang-orang di sekitar kita. Dan itu wajar, karena di sekeliling kita adalah manusia. Tak ada manusia tanpa kekurangan di dunia ini. Jika harus menuntut adanya manusia suci tanpa salah, seharusnya tuntutan tersebut terlebih dahulu untuk diri kita sendiri ketimbang orang lain.

Melalui fasilitas seperti WA, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube dan lain sebagainya. Peluang untuk mengungkapkan isi hati atau menceritakan kekurangan orang lain menganga besar.   Pergunjingan kini tak hanya berupa pembicaraan secara lisan melainkan pula bisa berupa tulisan atau konten lainnya.

Selama sarana tersebut efektif untuk menyampaikan keburukan, selama itu pula dosa mengalir. Artinya, dosa ghibah bukan hanya bersumber dari lidah tapi juga bisa dari tangan kita tangan.

Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil dalam kitab Is’adur Rafiq juz 2, hal. 105 menyatakan :
  وَمِنْهَا كِتَابَةُ مَا يَحْرُمُ النُّطْقُ بِهِ  
Artinya: “Di antara maksiat tangan adalah menuliskan satu hal yang haram diucapkan” (Syekh Muhammad bin Salim Ba-Bashil, Is’adur Rafiq, juz 2, hal. 105).
 
Lebih jauh beliau melanjutkan bahwa menggunjing dan jenis dosa menulis yang lain justru dosanya lebih besar dan lebih langgeng. Sebab apa? Karena potensi jangkauan maksiat tersebut lebih luas, dan tidak akan bisa hilang dalam sekejap. Berbeda dengan ucapan, sekali disampaikan, langsung tidak ada bekasnya. Walaupun kebencian yang ditebar juga tetap berbahaya.  

Oleh karena itu, baik melalui chat, telepon, video, sepanjang ada unsur menggunjingnya, hukumnya adalah haram. Keharaman ini berlaku baik menggunjing sesama Muslim atau pun menggunjing non-Muslim yang mereka tidak menyakiti kita.  

Dalam kitab Az-Zawajir, Ibnu Hajar al-Haitami menceritakan bahwa Imam al-Ghazali pernah ditanya tentang hukum menggunjing non-Muslim. Kemudian Imam al-Ghazali menjawab :  
 هِيَ فِي حَقِّ الْمُسْلِمِ مَحْذُورَةٌ لِثَلَاثِ عِلَلٍ:  
“Bagi seorang Muslim menggunjing orang kafir dilarang karena tiga alasan.”  

 الْإِيذَاءُ  
Pertama yaitu “menyakiti hatinya”
Menyakiti hati orang lain, selama dia tidak menyakiti kita, baik itu Muslim atau non-Muslim, tidak dibenarkan.  

 وَتَنْقِيصُ خَلْقِ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ خَالِقٌ لِأَفْعَالِ الْعِبَادِ  
Kedua, “menganggap kurang ciptaan Allah”
Padahal Allah-lah yang menciptakan semua gerak-gerik hamba-hamba-Nya. (Menjelek-jelekkan non-Muslim di luar urusan keyakinannya, sama juga menganggap ada yang kurang sempurna pada ciptaan Allah).

 وَتَضْيِيعُ الْوَقْتِ بِمَا لَا يُعْنِي  
Ketiga, “boros waktu untuk hal-hal yang tidak berguna” 

Lebih lanjut, Imam Ghazali juga menyatakan :  
 وَأَمَّا الذِّمِّيُّ فَكَالْمُسْلِمِ فِيمَا يَرْجِعُ إلَى الْمَنْعِ مِنْ الْإِيذَاءِ،؛ لِأَنَّ الشَّرْعَ عَصَمَ عِرْضَهُ وَدَمَهُ وَمَالَهُ 
“Kafir dzimmi (non-Muslim yang tidak memerangi orang Muslim) hukumnya berlaku sebagaimana orang Islam dalam hal masing-masing tidak boleh disakiti. Sesungguhnya syara’ melindungi kehormatan, darah dan hartanya.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Az-Zawâjir, [Dârul Fikr, Beirut, 1987], juz 2, halaman 27).
 
Jama’ah Jum’at Rohimakumulloh,

Dalam bermedsos, di antara kita banyak pula yang menjadi silent reader atau pembaca pasif. Tidak pernah menuliskan status di Facebook, tidak pernah berkomentar di WA Group, namun aktif membaca ke sana kemari. Menjadi silent reader pun tak lantas terbebas dari jeratan ghibah.   Sebagai silent reader, kita juga harus berhati-hati dalam memilih berteman, mem-follow atau men-subscribe siapa? Karena apabila kita salah memilih teman, berada pada grup yang keliru, men-subscribe orang-orang yang gemar menggunjing pihak lain, maka kita akan dengan mudah menjadi otomatis membaca berita gunjingan mereka.  

Imam Nawawi dalam kitabnya Hilyatul Anwar wa Syi’arul Abrar mengatakan :
  اِعْلَمْ أَنَّ الْغِيْبَةَ كَمَا يَحْرُمُ عَلَى الْمُغْتَابِ ذِكْرُهَا، يَحْرُمُ عَلَى السَّامِعِ اِسْتِمَاعُهَا وَإِقْرَارُهَا
“Menyimak sebuah gunjingan dan membiarkannya itu sama haramnya dengan menggunjing itu sendiri”

Bagi penyimak jika mempunyai kemampuan harus mencegah, memberikan nasihat kepada pembuat konten. Minimal, jika tidak mampu manangkal, hatinya harus inkar dan meninggalkan majelis tersebut.

Dalam konteks medsos, apabila ada postingan yang arahnya membicarakan keburukan orang lain, segera pindah ke konten lain yang lebih bermanfaat. Jangan justru gunjingan tersebut dibaca sampai selesai.  

Allah berfirman dalam Al-Qur’an :  
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ  
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurat: 12).  

Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda :  
 يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ  
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya". (HR Abu Dawud) .

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَجَعَلَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاِت وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ البَرُّ التَّوَّابُ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمُ. أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْم، بسم الله الرحمن الرحيم، وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣) ـ   وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرّاحِمِيْنَ ـ  

Jaka Suganda
Selasa, 11 Februari 2020

di gubah dari : https://islam.nu.or.id


Senin, 03 Februari 2020

Kitab Tuhfatul Athfal (Bab Hukum Lam Ta`Rif Dan Lam Fi`il)



حُـــكْــمُ لَامِ اَلْ وَلَامِ الْــفِــعْــــــــلِ
HUKUM LAM TA`RIF DAN LAM FI`IL

Al ta`rif (اَلْ ) adalah Al yang masuk pada isim selain isim isyaroh dan isim `alam.

لِلَامِ اَلْحَــالَانِ قَــبْــلَ الْأَحْــرُفِ۞أُوْلَاهُــمَـــاإِظْــهَـــارُهَــــا فَــلْـــتَـــعْــــــــرِفِ
Bagi Lam Al (Lam ta’rif/ Alif Lam) terdapat dua hukum ketika berada sebelum huruf hijaiyyah. Hukum yang pertama adalah izhhar, yakni membaca huruf Lam sukun dengan jelas, maka ketahuilah.

قَبْلَ اَرْبَعٍ مَعْ عَشْـــرَةٍ خُدْعِلْمَــهْ۞مِنْ اَبْــغِ حَجَّــــكَ وَخَفْ عَــقِـيْمَــهْ
Pertama: adalah dibaca idzhăr, yaitu ketika AL (اَلْ) bertemu dengan huruf hijaiyah yang 14 yang terkumpul dalam syi`ir  ابـغ حـجـك وخـف عـقــيـمـه,  yaitu:
 alif (ا ), ba’ (ب), ghin ( غ ),ha’ ( ح ), jim ( ج ), kaf ( ك ), wawu ( و ), kha’(خ), fa’ ( ف ), `ain ( ع ),qaf( ق ), ya’ ( ي ), mim ( م ) dan ha’  (هـ).

Contoh bacaan idzhar :
)اَلْاَحَــــدُ : اَلْــبَـــاسِــطُ( اظهار ال برتمو حاء دان باء
)اَلْغَــفُــــوْرُ : اَلْـحَـكِـــيْـمُ( اظهار ال برتمو غين دان حاء
)اَلْـجَـــلِــيْــلُ : اَلْكَــبِــيْرُ( اظهار ال برتمو جيم دان كاف
)اَلْـوَهَّـــابُ : اَلْـخَـسِــيْرُ( اظهار ال برتمو واو دان خاء
)اَلْـفُــلْكُ : اَلْـعَــظِـــيْـمُ( اظهار ال برتمو فاء دان عين
)اَلْــقَــــدِيْرُ : اَلْــيَــسِـــيْرُ( اظهار ال برتمو قاف دان ياء
)اَلْمُـعِــــيْـــدُ : اَلْـهَـــــادِيْ( اظهار ال برتمو ميم دان هاء

ثَـــانِـــيْــهِمَــا اِدْغَــــــامُــهَـــا فِـــيْ اَرْبَــــــعِ۞وَعَشْــرَةٍ أَيْـضًــا وَرَمْـــزَهَـافَــــعِ
Kedua : dibaca idghăm, yaitu ketika AL(اَلْ)bertemu dengan 14 huruf yang menjadi huruf awal pada tiap-tiap kalimat syi`ir di bawah ini.

طِبْ ثُمَّ صِلْ رَحْـمًا تَفُزْ ضِفْ ذَانِـعَمْ۞دَعْسُـــوْءَ ظَـــنٍّ زُرْشَــرِيْفًـا لِـلْـكَــــرَمْ
Artinya: puaslah kamu, sambunglah familimu maka kamu akan beruntung, suguhilah orang ini dengan kenikmatan-kenikmatan, tinggalkan prasangka buruk dan kunjungilah orang mulia karena kemuliaannya.

Yaitu: tha’ (ط), tsă’(ث), shăd(ص),Ră’(ر), tă’ (ت), dlăd (ض), dzăl (ذ), nun(ن), dăl (د), sin ( س ),zhă’(ظ), ză’ (ز), syĩn (ش) dan lăm(ل).

Contoh:
ال برتمو طاء دان ثاء ادغـام )اَلطَّاهِــرُ : اَلــثَّــوَابُ(
ال برتمو صاد دان راء ادغـام )اَلصَّـبُــوْرُ : اَلـــرَّؤُوْفُ(
ال برتمو تاء دان ضاد ادغـام )اَلـتَّــائِـــبُـوْنَ : اَلضَّــرُّ(
ال برتمو ذال دان نون ادغـام )وَالذَّارِيَــاتِ : اَلـنَّـافِـــعُ(
ال برتمو دال دان سين ادغام )اَلـدَّهْــرُ : اَلسَّامِــعُ(
ال برتمو ظاء دان زاء ادغام )اَلظَّاهِـــرُ : اَلــزَّائِـــرُ(
ال برتمو شين دان لام ادغام )اَلشَّكُـــوْرُ : اَلـلَّـطِــيْــفُ(

وَاللَّامَ اْلاُوْلَى سَـمِّهَاقَمَرِيَّــــهْ۞وَاللَّامَ الْأُخْرَى سَـمِّهَا شَـمْــسِـيَّــــهْ
AL( اَلْ)bagian yang pertama dinamakan Al-Qomariyah (jelas), dan AL( اَلْ) bagian yang kedua dinamakan Al-Syamsiyah (tidak jelas).

وَأَظْـهِــــرَنَّ لَامَ فِــعْـــلٍ مُطْــلَــقَـــا۞فِى نَحْــوِ قُــلْ نَعَمْ وَقُــلْـــنَــا وَالْـــتَــقَى
Dan bacalah dengan izh-har seluruh Lam fi’il (Lam sukun yang ada pada kata kerja)
adalah mutlak, misalnya dalam contoh kata: قُــلْ نَعَمْ, kata قُــلْـــنَــا dan الْـــتَــقَى

Contoh bacaan idzhar:

لام ماتى دى فعل ماضى اظهار فعلى )فَلْـــــتَــقَطَــهُ(
لام ماتى دى فعل مضارع اظهار فعلى )يَــلْــــتَــقِــطْــهُ(
لام ماتى دى فعل امر اظهار فعلى )سَــلْ بَــنِـــيْ(

Akan tetapi apabila lam fi`il yang mati tersebut bertemu dengan huruf lam (ل)atau Ra’ ( ر ) maka harus dibaca idghăm.

Contoh:

لام فعل ماتى برتمو راء )قُــرَّبِّــيَ الـلّٰـهُ( ادغام )قُـلْ رَبِّــيَ الـلّٰـهُ(
لام فعل ماتى برتمو لام )قُــلَّــهُــمْ( ادغام )قُـلْ لَـهُمْ مِــيْــعَـــادٌ(

Artikel Sebelumnya : Kitab Tuhfatul Athfal (Hukum Nun Dan Mim Bertasydid)

Baca dari pertama : Kitab Tuhfatul Athfal Fi Tajwidil Qur’an